Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Politik’ Category

Musyawarah Daerah Muhammadiyah ke 13 telah selesai dilaksanakan, 21 pimpinan cabang Muhammadiyah se Kabupaten Kerinci, IMM, IPM, NA, Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah ikut serta dalam musyawarah tersebut.

Pada awal-awal sidang pleno sempat terjadi ketegangan diforum Musyda, Sidang diwarnai interupsi dari peserta sidang, kritik keras dilontarkan kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah periode 2010-2015, berdasarkan Pantauan Redaksi dilapangan peserta Musyda mempertanyakan tata tertib kenapa tidak dibahas diarena Musyda, “setau kami organisasi manapun tata tertib pasti dibahas di arena Musyda” ujar salah seorang peserta utusan PCM Bunga Tanjung. “Kami akan bertahan dan tetap akan mengikuti musyda ini jika Pimpinan Daerah dapat menjelaskan kenapa tatib tak dibahas diforum ini” sambung utusan dari PCM Pendung Talang Genting. (lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Hiruk pikuk diskusi pemekaran kabupaten Kerinci Hilir masih ramai saja mewarnai pembicaraan warga disetiap sudut desa di Kerinci Hilir, harapan dan cita-cita masyarat Kerinci Hilir ingin membentuk daerah otonomi baru sangatlah besar, maklum masyarakat Kerinci Hilir selama beberapa dekade ini masih belum optimal merasakan keadilan pemerataan pembangunan disemua sektor kehidupan, jika harus berkata jujur “Kamai uhang dile nak nagih janji Bupati Kerinci Adirozal” beberapa tahun lalu disaat kampanye Pilbup. (lebih…)

Read Full Post »

IMG_20131229_141810Menelisik perkembangan dinamika politik daerah terutama Kota Sungai Penuh dalam mencari pemimpin yang mampu membawa Kota Sungai Penuh menjadi Baldatun toibatun warobbul ghapur. Politik dan trik tidak bisa dilepaskan dari arus demokrasi apalagi Indonesia dalam transisi menuju demokrasi se utuhnya. Politik beriringan dengan gerak demokrasi dalam menuju cita-cita Negara, namun terkadang politiklah menjadi pembenaran bahkan alat “Pemerkosaan” Kekuasaan sehingga berbagai kongkalikong bahkan kejahatan dalam mencapai kekuasaan bagi penguasa yang dalam syahwat kerakusan.

Di Kota Sungai Penuh ada Tiga Kandidat yang akan bertarung dalam Pemilihan Walikota, ketiga-tiganya mempunyai latar belakang yang berbeda namun dalam kerangka modal rekam jejak untuk mengulang suara, berbagai retorika politik dimainkan untuk mewujudkan espektasi yang di inginkan, kemudian tak jarang Tim sukses akan melakukan berbagai cara agar calon walikotanya menuju Kursi satu di kota Sungai penuh.

Gerak Politik dalam pemilihan Walikota Sungai Penuh menjadi catatan sejarah apakah bermartabat atau bangsat, integritas-moralitas dan efektifitas-demokratis  dipertaruhkan jika tatkala terjadi pensakitan Integritas-moralitas politik dan Demokrasi, selayaknya seorang kompetisi baik anolagi kontestalasi perpolitikan sebelum waktu berakhir akan selalu kerja keras dalam memobilitas, arus inilah yang perlu digarisbawahi agar menjadi titik focus dalam menyehatkan demokrasi yang tercedrai.

Demokrasi selayaknya diletakan sebagai instrumen dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, namun kenyataan menjadi tragedy traumatic pernah terjadi di kabupaten kerinci ketika pemilihan Bupati Kerinci, inilah kadang kala sudah masuk pada pemberhalaan politik sehingga berbagai cara dilakukan dalam mencapai kekuasaan, secara sosiologis Feocoulkin mengatakan konflik social terjadi disaat ambisi bertentangan dengan ambisi lainnya yang tidak menemukan jalan batas sehingga semakin mempertegas keambisiustik politik yang diberhalakan.

Kontak politik di Kota Sungai Penuh harus dibangun atas dasar kebersamaan dalam keberagaman, jika kebersamaan dalam keberagaman yang mendasari gerak politik-demokrasi Insya Allah akan jauh dari konflik horizontal bahkan premanisme pesakitan demokrasi di kota sungai penuh akan semakin jauh dari jurang pemisah.

Dengan kekhasan budaya dalam lintas bahasa, karena bahasa yang berbeda tiap desa memberi sekat tersendiri dalam beradaptasi dalam kontek ini tentang perpolitikan, maka secara kolektif akan menyatu dengan keadaan yang lebih besar sama dalam kesamaan, sama secara budaya, bahasa, etnis dan puak menjadi maknetik tersendiri dalam menyatukan barisan untuk mobilitas politik.

Setelah sekian lama warga Kota Sungai Penuh mengidamkan Pemimpin yang mampu membawa rakyat pada tingkat kemakmuran tampa jiwa nepotisme tingkat tinggi yang sarat mengangkat keluarga pejabat pada tingkat kemakmuran maka pada saat ini waktu yang tepat bagi rakyat Kota Sungai Penuh melihat pemimpin yang bermartabat bukan yang harkat maupun memikat. Kondisi kita sebagai rakyat harus mampu menjunjung tinggi kedaulatan rakyat dalam melihat kualitas pemimpin yang maju dalam pemilukada.

Kedaulatan rakyat secara ekonomi harus menjadi titik sentral sebagai visi membenahi dan berkembang menjadi kedaulatan ekonomi kerakyatan, dengan kondisi georafis yang jauh dari akses perkotaan provinsi menjadi kesulitan tersendiri dari aspek ekonomi di tambah dengan sedikitnya perhatian pemerintah terhadap pasar tradisional, industry kreatif, permodalan usaha dan  sarana mendukung lainnya.

Kenapa ekonomi yang perlu disoroti terlebih dahulu? karena ekonomi menjadi “bensin” gerak multidimensi kehidupan. Pendidikan katakanlah semakin tinggi sekolah seseorang akan semakin tinggi biaya pengeluaran, tentu akan menjadi kesulitan bagi masyarakat yang hanya mampu memberi makan sesuap nasi seteguk air bagi keluarga kecilnya, karena keluarga besar yang hampir hilang ‘’tuna kepekaan” Solidaritas keluarga besar yang saya maksudkan masyarakat kota sungai penuh tanpa terkecuali pemerintahan.

Pemartabatan proses pemilukada menjadi sebuah keharusan, nilai ini tiap elemen baik cawalko, KPU, PAWASLU, Tim sukses, masyarakat pemilih dan keterlibatan rakyat lainnya harus ditanamkan dalam benak otak dan hati sehingga menjadi prilaku bermartabat berbuah pemilukada bermartabat dan pemimpin yang lahir adalah dari proses Pemartaban pemilihan.

Sosong Pemilihan Walikota Sungai Penuh dengan membawa bendera bermartabat, sudah saatnya rakyat mencerdasi hati dan pikiran dalam melihat kepemimpinan yang mensejahterakan rakyat sampai ambang kehidupan. Singkirkanlah uang yang diberi Rp.100.000 oleh tim yang tidak bermartabat membeli suara rakyat untuk sesaat, ini saking rendahnya martabat kemanusiaan yang bahkan menggadai kepercayaan yang dipaksa karena hanya setelah diberi uang pilihan lalu mata terbuka tanpa kedap kedit yang mengiurkan tawaran murahan dan bahkan sangat murah.

Melalui Pemilihan Walikota Sungai Penuh  dan Gubernur Jambi mari kita benahi diri dan masuk pada pemilih yang cerdas dan berkepribadian tanpa digeser oleh sokongan sejumlah uang dan prilaku murahan itu.

Oleh :Indra Mustika (Aktivis IMM)

Read Full Post »

Assalamualalikum Wr, Wb,  halo kawan-kawan sekalian apa kabar lama tidak bertemu, Dalam kesibukan beberapa pekan lalu saya melakukan perjalaanan ke Kota Palembang, Jambi dan Sumatra Barat dalam melaksankan sebuah urusan pekerjaan. Kebiasaan saya, dalam sebuah perjalanan sering kali saya melemparakan wacana kepada masyarakat guna menuai Opini masyarakat tentang sebuah permasalahan. Kemaren saya diskusi tentang reformasi, sungguh di luar dugaan ternyata banyak masyarakan yang mengangap bahwa Reformasi yang terjadi dewasa ini tidak berfungsi untuk membanggun bangsa Indonesia tapi malah menghancurkan bangsa Indonesia.

Dengan simak saya memperhatikan alasan demi alasan mereka, ternyata ada sebuah itibar yang saya ambil. rasa kecewa mereka dipengaruhi oleh, keadaan krisis yang tak kunjung padam setelah gaung penurunan Soeharto 1998, ditopang pula gonjang-ganjing kepemimpinan perbutan Tahta pemerintahan, bahkan dari level paling kecil pun ditingkat desa hingga sampai ke tingkat Presiden yang belum menemukan solusi demokrasi pemilihan yang pas.

Setelah alam reformasi dibentuk, bisa kita lihat yang berkembang hanyalah kecerdasan berpolitik untuk sebagian besar eleman masyarakat. Betul hanya itulah meningkat tajam. Harapan kita adanya peningkatan di bidang pembangunan yang merata serta memadai, keadilam sosial untuk seluruh rakyat INdonesia itu belum sama sekali terlihat.

Persaingan perebutan kekuasaan yang terjadi malah semakin ketat dan merajalela Puluhan orang ditahan atas dakwaan KKN. Kita Indonesia diniatkan akan di Format Ke arah Amerikaisme namun bangsa Ini ternyata belum siap. Jiwa ambisius anak-anak bangsa lebih tinggi dari pada jiwa profesionalisme.

Kekacawuan di Negeri ini terbangun dari kesalah pahaman arti sebuah Reformasi, seharunya Reformasi adalah beranjak dan membangun ulang jiwa kemandirian seraya menghilangkan jiwa terjajah oleh rezim Otoriter Orba kearah Kebebasan Demokrasi Era Reformasi. Kesalah pahaman disini saya maksud adalah disaat sebagian besar menilai serta mengartikan Reformasi sebagai sebuah KESEMPATAN emas untuk menjadi penjajah baru, bukan membina kemandirian masyarakat.

Masih banyak PR para penggerak Reformasi yang belum tertuntaskan, dan jauh sangat dalam harapan masyarakat awam agar bangsa ini bisa menyusun format yang kuat dan paten sesuai dengan jiwa Pancasila yang dibangun sejak kala Soekarno dkk membentuk negeri ini.

By. LGRA

Read Full Post »

%d blogger menyukai ini: