Berita

Rekrutmen pendamping desa telah selesai, tapi…?

Rekrutmen Pendamping Desa telah selesai dilaksanakan mulai dari seleksi bahan hingga tes tertulis dan wawancara, dimana untuk pendamping lokal desa tes dilaksanakan dikabupaten / kota masing-masing, dan untuk pendamping desa yang berkedudukan dikecamatan tes dilaksanakan di ibukota provinsi. walau jadwal pengumuman seleksi molor dari waktu yang dijadwalkan, dan diprovinsi Jambi diumumkan melalui beberapa media harian jambiekspress dan jambiindependent.

Seyogyanya 1 Oktober para pendamping desa sudah kick off terjun kelapangan sesuai dengan instruksi menteri Marwan Jafar, namun hal itu urung terealisasi, karena sampai berita ini dipublikasi para pendamping desa yang lulus seleksi tampak masih melaksanakan bimbingan dan teknis (bimtek).

Reformasi birokrasi tentu sejalan dengan slogan Revolusi Mental yang dicanangkan oleh Presiden RI, termasuk dalam hal rekrutmen pendamping desa, karena jika tidak demikian mustahil rasanya anggaran satu milyar satu desa (Samisade) yang diluncurkan oleh Presiden Jokowi melalui menteri Marwan Jafar bisa tepat sasaran.

Harapan dan kenyataan justru bertolak belakang, rekrutmen pendamping desa yang diharapkan banyak kalangan berjalan fair dan transparan justru sarat dengan permainan serta kongkalikong oleh orang dalam.

Sudah menjadi rahasia umum, seperti yang diberitakan oleh Liputan6.com, Jpnn.com dan media lainnya, lantaran besaran gaji yang dianggarkan untuk pendamping desa membuat praktek KKN dalam rekrutmen terlihat seperti sesuatu yang lumrah saja dilakukan, bahkan sebagian ada yang terang-terangan.

Berdasarkan informasi yang diterima oleh redaksi, ada calon pendamping desa yang tidak lolos administrasi/bahan, dan tetap ikut tes tertulis dan wawancara justru bisa lolos seleksi, bahkan yang lebih “berani” ada peserta yang tidak mengikuti tes tertulis dan wawancara bisa lolos seleksi.

“Jika sudah ada nama-nama yang lulus sebelum seleksi, lalu untuk apa ada tes ini dan itu, hanya sekedar modus saja, kami telah mengeluarkan banyak biaya tenaga dan waktu serta mengikuti tes sesuai prosedur justru tidak lulus” ujar beberapa orang peserta tes calon pendamping desa yang enggan disebutkan namanya.

Bahkan beberapa media yang menjadi mitra Satker untuk mempublikasi pengumuman hasil seleksi menjadi bulan-bulanan komentar dari para netizen yang merasa kecewa atas hal ini.

Lalu kapankah semua praktek mafioso ini bisa berakhir?..

Iklan

Mari berdiskusi cerdas

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s