Posted on 3 Februari 2010 by sarjoni
Sebagai pengantar untuk memasuki kiat-kiat ini, saya akan kutipkan hasil penelitian para ahli Fisika Kuantum:
Pierre Franckh (Jerman) menyebutkan dalam bukunya “Law of Resonance”:
Melalui gelombang elektrik dan magnet yang dipancarkan oleh hati, keyakinan kita mengalami perubahan timbal-balik dengan dunia nyata.
Penelitian yang dilakukan oleh HearthMath Institute menunjukkan seberapa besar energi yang dipancarkan itu.
• Daya sinar elektrik dari hati (EKG) mencapai hingga 60 kali lebih kuat daripada sinyal elektrik yang dihasilkan oleh otak (EEG)
• Medan magnit dari hati bahkan 5.000 kali lebih kuat daripada yang ditimbulkan oleh otak.
Islam mengajarkan kepada kita kiat-kiat yang ampuh untuk menghilangkan stress, menciptakan suasana baru dalam pikiran dan hati kita. Sehingga kita memiliki energi dan kekuatan yang baru untuk mencapai sukses. Kiat-kiat itu antara lain:
Pertama: Usahakan berada dalam kondisi suci dari hadas.
Kedua: Usahakan dan biasakan bersedekah/berinfak sesuai kemampuan dengan niat yang ikhlas, khususnya saat memberikan.
Ketiga: Lakukan khalwat/’uzlah/meditasi setiap hari setidaknya antara 10 menit hingga satu jam. Tujuannnya merenungi dan mengevaluasi diri. Kiat ini sangat efektif untuk memperkuat energi golombang resonansi kita
Keempat: Lakukan shalat Istighfar. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: sukses | Ditandai: impian, sukses | Leave a Comment »
Posted on 3 Februari 2010 by sarjoni
Pertama: Melakukan shalat taubat (shalat Istighfar) setiap hari atau malam hari.
Shalat ini bermanfaat untuk menghilangkan kegelisahan hati dan kekusutan pikiran. Dan dapat mendatang rejeki dari arah yang terduga-duga. Dalam kitab Mafâtihul Jinân (kunci-kuci surga) disebutkan: “Jika Anda merasa sempit dalam kehidupan, dan sulit menemukan solusi dalam persoalan yang Anda hadapi, maka jangan tinggalkan shalat ini.” Shalat ini diajarkan oleh Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa). Caranya sebagai berikut:
Lakukan shalat dua rakaat, dengan niat memohon ampunan Allah swt. Setiap rakaat sesudah surat Fatihah membaca surat Al-Qadar. Sesudah membaca surat Al-Qadar membaca Istighfar (15 kali), yaitu
اَسْـتَغْفِرُاللهَ
Astaghfirullâh
Aku mohon ampun kepada Allah Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Islam | Ditandai: jalan keluar, solusi | Leave a Comment »
Posted on 3 Februari 2010 by sarjoni
A. Faktor Utama:
Untuk membentuk keluarga sakinah, dimulai dari pranikah, pernikahan, dan berkeluarga. Dalam berkeluarga ada beberapa hal yang perlu difahami, antara lain :
1. Memahami hak suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami
a. Menjadikannya sebagai Qowwam (yang bertanggung jawab)
* Suami merupakan pemimpin yang Allah pilihkan
* Suami wajib ditaati dan dipatuhi dalam setiap keadaan kecuali yang bertentangan dengan syariat Islam.
b. Menjaga kehormatan diri
* Menjaga akhlak dalam pergaulan
* Menjaga izzah suami dalam segala hal
* Tidak memasukkan orang lain ke dalam rumah tanpa seizin suami Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Islam | Ditandai: islami, keluarga sakinah | Leave a Comment »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
Perbanyak kalimat syukur, hindari mengeluh. Ketika mengeluh sebenarnya kita melepaskan energi dan getaran negatif ke alam semesta yang akan menarik hal-hal yang negatif ke dalam hidup kita. Demikian juga sebaliknya.
Mari kita hayati pernyataan Allah swt dan kalimat-kalimat suci dari para kekasih-Nya:
Allah swt berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” QS. Ihrahim: 7)
Rasulullah saw bersabda:
“Pergunakan nikmat Allah dengan cara yang baik. Jangan kalian cintai dan jangan jadikan ia berpaling dari kalian. Sesungguhnya ketika nikmat itu berpaling dari suatu bangsa ia mendatangi bangsa yang lain.” (Kanzul Fawâid 2: 162)
Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
Sikapi nikmat Allah dengan cara yang baik sebelum ia pergi darimu. Sesungguhnya nikmat yang pergi itu engkau akan menyaksikannya pada orang yang menyikapinya dengan baik.” (Asy-Syarâi’ 2: 464)
Imam Al-Hadi (sa) berkata:
Sikapi nikmat Allah dengan cara yang baik, dan datangkan tambahannya dengan mensyukurinya. Sesungguhnya jiwa menerima lebih dari apa yang kamu berikan, dan menahan lebih dari apa yang kamu tahan.” (A’lâmuddin: 312)
DIarsipkan di bawah: sukses | Ditandai: Islam, sukses, syukur | 1 Komentar »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
Bermacam-macam manusia memaknai sukses. Dari ukuran materi, kedewasaan, spiritual sampai dengan penghargaan sosial yang amat tinggi. Ada yang sukses dengan penuh rekayasa, akal bulus dan trik. Ada orang sukses dengan jalan yang biasa-biasa saja. Ada yang sukses dengan cara yang alami.
Bila diumpamakan dengan bunga, orang sukses yang penuh dengan rekayasa mirip dengan bunga di vas bunga. Cepat cantik dan pasti layu. Orang sukses dengan jalan biasa-biasa ibarat bunga di taman rumah. Memerlukan usaha menanam, memupuk, menyirami dengan air. Layunya lebih lama dibandingkan dengan bunga di vas bunga. Sukses dengan jalan alami persis seperti bunga di gunung. Tidak ada yang menanam, tidak ada yang memupuk, apalagi yang menyirami. Ia menjadi bagian dari keindahan siklus alami. Ia juga akan layu. Tapi kalau bunga di vas bungan dan taman rumah layunya diikuti oleh perasaan sedih dan tidak ikhlas. Bunga di gunung layu tanpa diikuti oleh perasaan sedih. Ia mengikuti siklus alam tanpa penolakan. Cirinya adalah: Indah dan ikhlas, mengikuti kehendak Penciptanya.
Sukses yang alami dikatakan indah dan ikhlas, karena ia tumbuh seperti indahnya bunga di gunung tanpa harapan untuk dipuji. Tidak juga disertai rasa ketakutan layu bila saatnya sudah tiba. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: sukses | Ditandai: impian, sukses | Leave a Comment »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
Maka ketahuilah, sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah…
(QS. Muhammad: 19)
dakwatuna.com – Jumlah umat Islam kini sangat banyak. Sebagian besar mereka terkategorikan sebagai Islam keturunan atau kebetulan terlahir sebagai muslim dari orang tua. Kenyataan akan jumlah yang banyak tidak berkorelasi dengan pemahamannya kepada Islam secara benar, orisinil dan utuh. Hakikat memahami Islam dimulai dari memahami inti sari ajarannya yaitu dua kalimat syahadah (syahadatain). Kalimat tersebut terdiri dari Laa Ilaaha Illallah dan Muhammadun Rasulullah. Memahami keduanya sangat penting dan mendasar. Karena jika kita tak memahami hakikat kalimat syahadah, kita dapat terjerembab ke dalam penyakit kebodohan dan kemusyrikan.
Syahadatain merupakan fondasi atau asas dari bangunan keislaman seorang muslim. Jika fondasinya tidak kuat maka rumahnya pun tidak akan kuat bertahan.
Ayat di atas, menjelaskan bahwa umat Islam tidak dibenarkan hanya sekadar mengucapkan atau melafalkan dua kalimat syahadah, tetapi seharusnya betul-betul memahaminya. Kata fa’lam berarti “maka ketahuilah, ilmuilah….” Artinya Allah memerintahkan untuk mengilmui atau memahami kalimat Laa Ilaaha Illallah bukan sekadar mengucapkannya, Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Islam | Ditandai: Islam, islam agamaku, syahadatain | Leave a Comment »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
Kegagalan sering dipahami oleh umumnya manusia sebagai penderitaan, kesulitan, kesengsaraan, ujian berat, krisis besar, dan sejenisnya. Padahal tokoh-tokoh besar dilahirkan dari berbagai krisis besar, kesulitan, peperangan, dan berbagai penderitaan. Allah swt berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan akan datang kemudahan.”
Mari kita mengambil pelajaran dari peristiwa alam:
1. Emas adalah perhiasan yang digemari oleh banyak orang. Bahkan sebagian dari mereka rela mati untuk mendapatkannya. Emas dihasilkan dari panas api. Semakin panas yang melebur semakin murni emas yang dilahirkan.
2. Berlian adalah permata berharga yang disukai oleh umumnya perempuan. Berlian sebenarnya berasal dari sebongkah batu (berlian mentah), yang menjadi indah dan berharga setelah melalui proses yang keras, digosok dan dioles berkali-kali. Ada suatu kisah: seseorang meninggalkan 4.046 hektar “batu berlian” untuk mencari berlian di tempat lain, karena ia tidak tahu bagaimana sebenarnya rupa berlian mentah. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: sukses | Ditandai: alam guru, sukses | Leave a Comment »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
Sebagaimana berbakti kepada orang tua, durhaka kepada mereka juga berakibat langsung dalam kehidupan di dunia, selain juga berakibat saat sakratul maut, di alam Barzakh dan akhirat. Bahkan Rasulullah saw sendiri tak sanggup memberi syafaat dan pertolongan kepada anak yang durhaka sebelum orang tuanya memaafkan. Ini banyak disebutkan dalam riwayat-riwayat hadis yang shahih dan mutawatir. Tolak Ukur durhaka kepada orang tua
Allah swt berfirman: “Jika salah seorang di antara mereka telah berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali jangan kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra’: 23).
Salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw: Apa ukuran durhaka kepada orang tua? Rasulullah saw menjawab: “Ketika mereka menyuruh ia tidak mematuhi mereka, ketika mereka meminta ia tidak memberi mereka, jika memandang mereka ia tidak hormat kepada mereka sebagaimana hak yang telah diwajibkan bagi mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 15: 195) Rasulullah saw pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib (sa): “Wahai Ali, barangsiapa yang membuat sedih kedua orang tuanya, maka ia telah durhaka kepada mereka.” (Al-Wasail 21: 389; Al-Faqîh 4: 371) Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Islam, Tak Berkategori | Ditandai: durhaka | 2 Komentar »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
Sebagaimana kita maklumi bahwa setiap manusia mengharapkan dan mengidamkan kebahagiaan di dunia dan akhirat, memperoleh kemudahan dan keluasan pintu rizki, dan keberkahan di dalamnya. Memperoleh kemudahan dalam sakratul maut, bahagia di alam kubur dan Barzakh. Untuk itu, kita harus mengenal rambu-rambu yang mengantarkan kita padanya. Agar kita bisa mencapai harapan itu dan diselamatkan dari segala yang ditakutkan, kita harus benar-benar rambu-rambunya sebagaimana yang dipesankan dalam hadis-hadis Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa).
Allah swt menegaskan dalam firman-Nya:
“Rendahkan dirimu terhadap mereka dengan penuh kasih sayang, dan ucapkan: “Duhai Tuhanku, sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka telah mendidikku di waktu kecil.” (Al-Isra’: 24).
Rasulullah saw bersabda:
“Berbaktilah kamu pada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti padamu. Jagalah kesucian isteri orang lain, niscaya kesucian isterimu akan terjaga.” (Al-Wasail 20: 356)
Berbakti kepada orang tua
tidak cukup pada saat hidupnya
Rasulullah saw pernah ditanyai: “Siapakah yang paling besar haknya terhadap seseorang?” Beliau menjawab: “Kedua orang tuanya.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ada orang yang berbakti kepada orang tuanya ketika mereka hidup, jika ia tidak memohonkan ampunan untuk mereka setelah wafat, maka ia dicatat sebagai anak yang durhaka kepada mereka. Dan sungguh ada orang yang durhaka kepada orang tuanya ketika mereka hidup, tapi sesudah mereka wafat ia memperbanyak istighfar untuk mereka, sehingga ia dicatat sebagai anak yang berbakti kepada mereka.” (Mustadrak Al-Wasâil 2: 112) Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Islam | Ditandai: baktiku | 2 Komentar »
Posted on 29 Januari 2010 by sarjoni
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”. (Al-Baqarah: 45-46)
Ibnu Katsir menjelaskan satu prinsip dan kaidah dalam memahami Al-Qur’an berdasarkan ayat ini bahwa meskipun ayat ini bersifat khusus ditujukan kepada Bani Israel karena konteks ayat sebelum dan sesudahnya ditujukan kepada mereka, namun secara esensi bersifat umum ditujukan untuk mereka dan selain mereka. Bahkan setiap ayat Al-Qur’an, langsung atau tidak langsung sesungguhnya lebih diarahkan kepada orang-orang yang beriman, karena hanya mereka yang mau dan siap menerima pelajaran dan petunjuk apapun dari Kitabullah. Maka peristiwa yang diceritakan Allah Taala tentang Bani Israel, terkandung di dalamnya perintah agar orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dari peristiwa yang dialami mereka. Begitulah kaidah dalam setiap ayat Al-Qur’an sehingga kita bisa mengambil bagian dari setiap ayat Allah swt. “Al-Ibratu Bi’umumil Lafzhi La Bikhusus sabab” (Yang harus dijadikan dasar pedoman dalam memahami Al-Qur’an adalah umumnya lafazh, bukan khususnya sebab atau peristiwa yang melatarbelakanginya”. Baca selebihnya »
DIarsipkan di bawah: Islam | Ditandai: sabar, tenang | 1 Komentar »